Pertunjukan Longser “Pendekar Gunung Bohong”
Seni pertunjukan Longser merupakan salah satu keseniantradisional rakyat Sunda yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak awal abad ke-20. Longser dikenal sebagai seniteater rakyat yang memadukan tari, musik gamelan, lawakan, dan dialog spontan. Pertunjukan ini bukan hanya berfungsisebagai hiburan masyarakat, tetapi juga sebagai saranamenyampaikan pesan moral dan kritik sosial secara ringan danmenghibur. Longser memiliki daya tarik tersendiri karenabersifat menghibur sekaligus mendidik yang secara implisitmenyampaikan nilai-nilai sosial, budaya, dan pendidikan. Secaraumum, seni longser melakukan pertujukan pada malam haridengan rentang pertunjukan semalam suntuk.
Di Kota Cimahi, seni longser kembali dihidupkan dandilestarikan melalui pertunjukan berjudul “Pendekar GunungBohong”. Judul ini diambil dari Gunung Bohong, sebuah bukityang memiliki legenda lokal dan menjadi salah satu ikonCimahi. Pertunjukan ini digagas oleh komunitas budaya sebagaibentuk revitalisasi seni tradisional agar tetap dikenal olehgenerasi muda. Pendekar Gunung Bohong" adalah sebuahpertunjukan seni longser yang dipentaskan oleh komunitasLongser Bandoengmooi dari Cimahi, Komunitas Bandoengmooimerupakan entitas budaya yang tumbuh dari akar komunitas dansemangat independensi dalam pelestarian serta pengembangankesenian lokal
dengan ide cerita oleh Hermana HMT dan koreograferAgus Kandiwan. Pendekar Gunung Bohong" merujuk padasebuah lakon pertunjukan teater rakyat (longser) dari Cimahiyang terinspirasi dari sejarah perjuangan masyarakat saat masakolonial Belanda, serta cerita rakyat yang mengisahkan asal-usulpenamaan Gunung Bohong di Cimahi. Struktur pementasanlongser pada umumnya terdiri dari lima segmen pokok, dimulaidengan musik pembukaan (tatalu), kidung, wawayangandengan tarian-tarian, bobodoran (komedi), dan diakhiri denganlakon (penyampaian cerita). Kelima bagian ini terintegrasidalam sebuah format pementasan yang dikenal sebagai longserPanca Warna, yang diperkenalkan oleh Ateng Japar melaluikelompok longser yang dikelolanya sejak 1939.
pertunjukan ini juga bertujuan untuk mengenalkan danmembangkitkan kembali kesadaran generasi muda tentangsejarah perjuangan leluhur mereka, serta menanamkan nilai-nilaikepahlawanan dan patriotism . Melalui pementasan ini, nilai-nilai gotong royong, kreativitas, dan kecintaan terhadap budayalokal terus diwariskan. Longser tidak hanya menjadi pertunjukanseni semata, tetapi juga menjadi identitas budaya masyarakatSunda yang patut dijaga dan dilestarikan.
Pendekar Gunung Bohong" adalah sebuah pertunjukan senilongser yang memiliki ciri khas tertentu yang membedakannyadari pertunjukan seni lainnya. beberapa ciri khas daripertunjukan "Pendekar Gunung Bohong" :
1.Dialog dan Humor Lokal:
Salah satu elemen khas longser adalah penggunaan dialog yang mengandung humor lokal. Karakter-karakter dalam pertunjukanini sering berbicara dengan gaya bahasa yang akrab danmengundang tawa, memberikan suasana yang lebih ringanmeskipun ada elemen dramatis dalam cerita.
2.Kostum dan Properti Tradisional:
Biasanya, pertunjukan longser seperti ini mengenakan kostumtradisional yang kental dengan nuansa budaya lokal. Di "Pendekar Gunung Bohong," kostum para pemain kemungkinanakan mencerminkan karakter-karakter epik seperti pendekar, raja, dan prajurit, dengan tambahan elemen yang mengingatkanpada budaya Sunda.
3.Alat Musik Tradisional:
Musik dalam pertunjukan ini kemungkinan besar menggunakanalat musik tradisional seperti gamelan, kendang, atau alat musiklokal lainnya yang mendukung suasana cerita dan mengiringigerakan para pemain.
nilai nilai yang terkandung dalam longser
1. Pelestarian Bahasa dan Ungkapan Sunda
Bahasa yang digunakan dalam longser sepenuhnya berakar daribahasa Sunda. Dalam “Pendekar Gunung Bohong”, dialog para tokohnya menggunakan campuran bahasa Sunda lemes (halus) dan kasar sesuai dengan karakter dan status sosial masing-masing tokoh.
Hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat Sunda menghargaitata krama (tatakrama basa) dalam berkomunikasi. Penontondiajak untuk memahami bahwa bahasa bukan sekadar alatkomunikasi, tetapi juga cerminan budi pekerti dan kesantunan.
Dengan demikian, longser ini berperan penting dalammelestarikan bahasa daerah sekaligus memperkenalkan nilai-nilai kesopanan Sunda kepada generasi muda.
2. Kesenian Tradisional sebagai Identitas
Pertunjukan longser selalu diiringi oleh musik tradisional Sunda, seperti kendang, suling, rebab, dan kecrek. Dalam “PendekarGunung Bohong”, irama musik digunakan untuk mengiringiadegan lucu, tegang, maupun romantis, sehingga menciptakansuasana khas yang hidup.
Selain itu, tarian-tarian sederhana dan ekspresif memperkayavisual pertunjukan. Unsur musik dan tari ini mencerminkankekayaan budaya Sunda yang harmonis dan lembut, sertamenegaskan bahwa kesenian daerah merupakan identitas dankebanggaan masyarakat Sunda.
3. Simbolisme Kostum dan Properti
Kostum dan perlengkapan yang digunakan juga memiliki nilaibudaya tersendiri. Pakaian tokoh pendekar, rakyat biasa, maupun tokoh jenaka menggambarkan stratifikasi sosialmasyarakat tradisional Sunda.
Misalnya, pakaian pendekar yang sederhana menunjukkankesahajaan dan kejujuran rakyat kecil, sementara pakaian tokohkaya atau pemimpin sering kali dibuat berlebihan untukmenyindir sifat sombong dan materialistis.
Properti seperti golok, iket (ikat kepala), atau sarung tidak hanyamenjadi pelengkap, tetapi juga simbol kearifan lokal dan nilaikejantanan Sunda.
4. Nilai Kearifan Lokal (Local Wisdom)
Dalam cerita “Pendekar Gunung Bohong”, muncul berbagaigambaran perilaku masyarakat Sunda yang menjunjung silihasah, silih asih, silih asuh — saling mengajari, salingmenyayangi, dan saling menjaga.
Nilai ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Sunda yang mengutamakan keseimbangan, keselarasan, dan kebersamaan.
Selain itu, teater ini juga mengajarkan agar manusia tidakserakah, tidak sombong, dan tidak menipu orang lain, sesuaidengan pandangan hidup Sunda yang berlandaskan padakejujuran (kajujuran) dan kawijaksanaan (kawijaksanaan).
5. Simbolisme dan Kepercayaan Lokal
Judul “Gunung Bohong” memiliki makna yang berakar daritradisi lisan masyarakat Sunda, di mana gunung sering dianggapsebagai tempat sakral dan penuh makna spiritual. Cerita inimenggambarkan kepercayaan lokal terhadap alam dan kekuatanmoral yang mengatur keseimbangan hidup. Tradisi tersebutmengajarkan agar manusia hidup selaras dengan alam dan tidakmelanggar nilai-nilai kebenaran.
Komentar
Posting Komentar